Sabtu, 19 Juli 2014

CATATAN HATI SEORANG ISTRI



Telah kutinggalkan cemburu
di sudut kamar gelap
Telah kuhanyutkan duka
pada sungai kecil yang mengalir dari mataku
Telah kukabarkan lewat angin gerimis tentang segala catatan hati
yang terhampar di setiap jengkal sajadah dalam tahajud dan sujud panjangku...
Meski sepenuhnya saya sepakat, para istri bukan makhluk tanpa dosa yang tidak pernah lakukan kesalahan. Hanya saja khusus tulisan ini saya ingin sepenuhnya mendedikasikan hati bagi perempuan perempuan yang menyadang luka perkawinan.
Kekerasan, meski tidak selalu fisik, air mata, pelecehan hati.. adalah luka yang tak akan pernah bisa dihapuskan jika telah ditorehkan...
Ketidak jujuran akan menimbulkan ketidak percayaan…
Masih bisa aku rasakan luka yang tertoreh saat suamiku melakukan penghianatan itu. Meski hubungan kami saat ini sudah kembali menyatu, tetapi hubungan itu ibarat cermin yang retak, jika sedikit tersenggol pasti akan berserakan.
Semua hanya berawal dari satu kata. Pengkhianatan. Satu kata sederhana yang ternyata bisa mencabik pondasi benteng kepercayaan yang telah dibangun Zahra bertahun-tahun lamanya. Seiring dengan janji suci pernikahan yang telah mengikat Zahra dan Emir di mata Allah.
Apa yang salah dengan teknologi? Bukankah justru dengan teknologi itu manusia menjadi tampak tambah berilmu. Tapi mengapa kemudian teknologi itulah yang menjadi boomerang bagi pengunanya sendiri?
Langit dunia Zahra runtuh saat tanpa sengaja Zahra menemukan pesan mesra singkat di ponsel Emir. Zahra bimbang, haruskah Zahra berterimakasih pada teknologi yang  telah menguak pengkhianatan Emir, ataukah Zahra harus marah karena gara-gara teknologi itu pula pengkhianatan Emir menjadi subur dan terselubung dengan aman terjadi dibelakang Zahra.... Astagfirullahal'adzim....